Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah. Satu minggu ini saya membaca artikel kajian tentang takdir. Takdir adalah Ketetapan Allah, pembahasan takdir amat panjang jika saya tuliskan dalam email ini mungkin akan membosankan kalau dibaca sehingga saya hanya akan berbagi hikmah bagi orang yang beriman pada Takdir. Jika sesuatu terjadi maka sebagian sikap manusia dapat dianalogikan seperti cerita si Fulan di bawah ini.
Si Fulan ditugaskan oleh gurunya untuk memilih satu diantara dua buah mangga dalam sebuah piring. 'Ambilah sebuah mangga terbaik menurutmu, kemudian buanglah mangga yang menurutmu buruk dan makanlah mangga terbaikmu' itulah perintah gurunya pada si Fulan. Maka si Fulan pun mengerahkan kemampuannya untuk memilih mangga terbaik. Dipilihlah sebuah mangga dalam piring tersebut dan kemudian dilemparlah mangga yang menurutnya buruk ketempat yang jauh. 'Kamu yakin atas pilihanmu?' tanya gurunya, 'Makanlah buah pilihanmu!'. Si Fulan kemudian mengupasnya dan memakan mangga tersebut. Tapi apa yang terjadi ternyata setelah dimakan rasa mangga tersebut rasanya ASAM.Gurunya kembali bertanya 'Apakah kamu sekarang kecewa akan pilihanmu?'. Si Fulan pun menjawab 'Benar guru, sepertinya saya salah memilih mangga. Seharusnya saya memilih mangga satunya.' (1)
Ini adalah analogi manusia jika mendapat kesusahan maka menyalahkan keadaan atau sesuatu dengan sangkaannya. Karena mangga yang si Fulan buang sebenarnya belum tentu rasanya lebih enak dari mangga yang telah dipilihnya. Inilah yang banyak terjadi jika tertimpa musibah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya maka beribu kata seandainya dan seharusnya keluar dari mulutnya.
Nah bagaimana kalau ceritanya saya balik. Seperti ini ceritanya.
Si Fulan ditugaskan oleh gurunya untuk memilih satu diantara dua buah mangga dalam sebuah piring. 'Ambilah sebuah mangga terbaik menurutmu, kemudian buanglah mangga yang menurutmu buruk dan makanlah mangga terbaikmu' itulah perintah gurunya pada si Fulan. Maka si Fulan pun mengerahkan kemampuannya untuk memilih mangga terbaik. Dipilihlah sebuah mangga dalam piring tersebut dan kemudian dilemparlah mangga yang menurutnya buruk ketempat yang jauh. 'Kamu yakin atas pilihanmu?' tanya gurunya, 'Makanlah buah pilihanmu!'. Si Fulan kemudian mengupasnya dan memakan mangga tersebut. Tapi apa yang terjadi ternyata setelah dimakan rasa mangga tersebut rasanya MANIS. Gurunya kembali bertanya 'Apakah kamu sekarang bangga akan pilihanmu?'. Si Fulan pun menjawab 'Benar guru, sepertinya saya tidak salah memilih mangga. Saya yakin bahwa mangga ini manis pada saat saya mencium bau kulit mangga ini.' (2)
Ini adalah analogi manusia jika mendapat kebahagiaan maka dia bangga terhadap dirinya. Padahal belum tentu mangga yang dibuang rasanya asam mungkin saja lebih manis dari pilihannya. Inilah yang banyak terjadi jika mendapat kesuksesan maka mereka menganggap inilah hasil kerjanya dan hasil usahanya.
Inilah misteri takdir yang tidak dipahami si Fulan. Segala sesuatu yang terjadi adalah ketetapan Allah. Maka tidak layaklah kita larut dalam kesedihan dan kekecewaan apabila kita mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan sebagaimana kita juga tidak layak larut dalam kebanggaan apabila kita mendapat kesuksesan dan kesenangan karena sebenarnya semuanya hanya Ketetapan Allah.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).
Kita akan mendapatkan hasil dari segala usaha kita baik di dunia maupun di akhirat, karena Allah Maha Adil. Tetapi tidaklah segala sesuatu yang kita inginkan dan harapan kita sesuai dengan ketetapan Allah, karena hanya Allah lah yang berhak menentukan segala sesuatu bukan kita. Maka bukanlah kata SEDIH dan KECEWA apabila kita ditimpa kesusahan tetapi gantilah dengan kata SABAR, dan juga bukan kata BANGGA apabila kita memperoleh kesuksesan tetapi gantilah dengan kata SYUKUR karena bisa jadi yang kita tidak sukai padahal sebenarnya itu amat baik buat kita atau sebaliknya yang kita menyukai sesuatu adalah padahal itu amat buruk bagi kita sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
Karena itu bersemangatlah dalam beramal baik di waktu susah maupun di waktu senang sebagaimana nasehat Nabi dalam sabdanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)
Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. Aamiin Ya Mujibbad Da’awat.






0 komentar:
Posting Komentar