Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Islam adalah agama yang sempurna, adakah yang masih ragu
dengan kesempurnaan Islam? Kebanyakan umat Islam pasti mengatakan "Saya
yakin dengan kesempurnaan Islam" itulah yang kita katakan dalam ucapan.
Tapi benarkah ucapan kita tersebut?
Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Ankabut 2-3
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya
Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)
Salah satu ujian yang Allah berikan adalah Allah menetapkan
syariat Islam yaitu dengannya Allah telah menentukan kewajiban-kewajiban yang
tidak boleh diabaikan,menetapkan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar,
dan mengharamkan beberapa hal yang juga tidak boleh diterjang.
Saya akan bagikan sebuah artikel yang berjudul "Potret
Seorang Muslim Kepepet" yang saya ambil dari situs pengusahamuslim.com
semoga ini menjadi pencerahan bagi kita semua.
========================================================================
"Potret Seorang Muslim Kepepet"
Oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Disebutkan dalam sebuah kisah yang sahih bahwa Urwah bin
Zubair bin Awwam, salah seorang ulama tabi'in senior, cucu dari Abu Bakr
As-Siddiq, pernah melakukan perjalanan untuk menemui Khalifah Bani Umayah,
Abdul Malik bin Marwan. Pada waktu itu, kaki Urwah sedang sakit, dan ada
binatang kecil yang menggelayuti bagian luka di kakinya.
Ketika Urwah sampai di kediaman Abdul Malik bin Marwan, sang
Khalilfah mendiskusikan masalah kaki Urwah yang sakit. Singkat cerita, Tabib
kerajaan pun memeriksa penyakit yang dialami Urwah. Beliau mengusulkan, “Tidak
ada jalan keluar selain kami harus memotong kaki Anda.” Urwah bertanya,
“Bagaimana caranya?”
Sang Tabib menyarankan, “Anda minum khamar sampai mabuk.
Setelah itu, kami potong (kaki Anda, ed.), sehingga Anda tidak mengalami rasa
sakit.” Spontan, ulama bersahaja ini menjawab, “Aku tidak mau! Aku tidak ingin
menghindari ujian Allah ini dengan bermaksiat kepada-Nya. Izinkan aku untuk
shalat. Jika aku sedang berkonsentrasi dalam shalat, potonglah kakiku.” Setelah
beliau benar-benar khusyuk dalam shalatnya, sang Tabib memotong kakinya.
Berselang seminggu setelah kakinya dipotong, anaknya jatuh
dari atap dan meninggal. Beliau memiliki tujuh anak. Ketika informasi tentang
anaknya ini sampai di telinga Urwah, beliau mengatakan, “Ya Allah, hanya
milik-Mu segala puji. Engkau mengambil salah satu di antara anakku dan Engkau
sisakan enam. Engkau mengambil salah satu di antara anggota badanku dan Engkau
sisakan tiga yang lainnya ....” (Jannatur Ridha, karya Abu Ishaq Al-Huwaini,
hlm. 3)
Bisa kita bayangkan seandainya posisi kita sebagaimana
Urwah, ketika anestesi belum ditemukan seperti sekarang. Hanya ada dua pilihan:
menahan rasa sakit amputasi manual yang luar biasa atau menerjang maksiat
kepada Allah dengan minum khamar. Pada posisi ini, manusia mendapatkan ujian
mental. Di sini, keberanian manusia diuji. Mereka bisa jadi melawan sesuatu
yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.
Kita yakin bahwa keadaan semacam ini nyaris tidak pernah
luput dari perjalanan hidup manusia. Mulailah manusia terbelah menjadi dua
golongan: kelompok pemenang yang tegar di atas kebenaran, meskipun nyaris
merenggut nyawa dan golongan para pecundang, yang mudah menyerah dengan
keadaan.
Seseorang, yang begitu tegar dalam menghadapi setiap
masalah, tidak mengalami stres hanya gara-gara menghadapi ujian berupa
kesempitan hidup. Hatinya tetap tegar dan wajahnya tetap menunjukkan sikap
ridha terhadap semua takdir Allah.
/// Motivasinya jauh menembus batas dunia. Karena itu, sehebat apa pun ujian yang dialaminya, dia tidak gentar, tidak memelas kepada orang lain, dan tidak mudah menerima tawaran yang bertolak belakang dengan aturan syariat.///
Sebaliknya, seorang pecundang akan lebih memilih solusi yang
paling enak dan paling sesuai dengan seleranya. Halal-haram itu masalah
belakangan, yang penting kenyang, dapat uang banyak dan kenikmatan dunia
lainnya. Merekalah gambaran orang yang kalah sebelum berperang.
Barangkali ilustrasi di atas, terlalu berat untuk kita
praktikkan. Namun, satu hal yang perlu kita yakini, bahwa diri kita bisa
dilatih. Hanya saja, kita perlu keberanian tinggi untuk memulai. Mencoba
mengambil keputusan yang tidak melanggar syariat, meskipun sangat menyakitkan
diri kita.
/// Ini mungkin sangat sulit, namun tidak akan sesulit yang dibayangkan, bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena itu, bantulah jiwamu untuk mendidik diri sendiri dengan banyak berdoa kepada Dzat Yang Mahakuasa.///
Allahu a'lam.
==============================================================================
Jazakumullah khoiron katsiron






0 komentar:
Posting Komentar