Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”
Beberapa tafsiran mengenai “siapakah yang lebih baik amalnya”:
Pertama: siapakah yang paling baik amalannya di antara kita dan nanti masing-masing di antara kita akan dibalas.
Kedua: siapakah yang paling banyak mengingat kematian dan paling takut dengannya.
Ketiga: siapakah yang paling gesit dalam melakukan ketaatan dan paling waro’ (berhati-hati) dari perkara yang haram.
Keempat: siapakah yang paling ikhlas dan paling benar amalannya.
Amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam
beramal. Yang dimaksud ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya
karena Allah. Yang dimaksud benar dalam beramal adalah selalu mengikuti
petunjuk Nabi. Inilah pendapat Fudhail bin ‘Iyadh.
Kelima: siapakah yang lebih zuhud dan lebih menjauhi kesenangan dunia. Inilah pendapat Al Hasan Al Bashri.
Syarat Diterimanya Ibadah Bukan Hanya Niat yang Ikhlas
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“
Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Al Fudhail bin ‘Iyadh lalu berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan
dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun
tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.”
Oleh karena itu, syarat diterimanya ibadah itu ada dua:
- Niat yang ikhlas
- Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka amalan tersebut
tertolak. Semata-mata hanya ikhlas dalam beramal, namun tidak ada
tuntunan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan
tersebut tertolak. Misalnya niatnya ikhlas membaca Al Qur’an, namun
dikhususkan pada hari ketujuh kematian orang tuanya, maka amalan ini
tertolak karena amalan seperti ini tidak ada tuntunan sama sekali dari
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Tidak Menuntut Banyak Kuantitas Amalan, Namun Kualitasnya
Dalam ayat “
supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”, di situ tidak dikatakan siapakah yang
paling banyak amalannya.
Namun dikatakan siapakah yang paling baik amalannya. Sehingga dituntut
dalam beramal adalah kualitas (ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi), bukan
kuantitasnya.
Tidak Ada yang Dapat Menghalangi Kehendak Allah, Namun Dia Maha Pengampun
Dalam penutupan ayat kedua dari surat Al Mulk, Allah menyebut,
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Di dalamnya terkandung makna
tarhib (ancaman) dan
targhib
(motivasi). Maksudnya, Allah melakukan segala sesuatu yang Dia inginkan
dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Allah akan menyiksa
hamba-Nya jika mereka durhaka (enggan taat) pada-Nya dan tidak ada satu
pun yang bisa menghalangi-Nya. Namun Allah Maha Menerima Taubat jika
hamba yang terjerumus dalam maksiat dan dosa bertaubat dengan
kesungguhan pada-Nya.
Allah
akan mengampuni setiap dosa walaupun itu setinggi langit dan Dia pun
akan menutup setiap ‘aib (kejelekan) walaupun ‘aib itu sepenuh dunia.
sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/2771-faedah-surat-al-mulk-allah-menguji-manusia-siapakah-yang-baik-amalnya.html#_ftnref6