Kisah ruwatan dan kecelakaan mobil Tucuxi Dahlan Iskan dibeberapa media online membuat saya ingin mengomentari kejadian tersebut. Acara ruwatan dalam tradisi jawa artinya adalah pembersihan, sesuatu yang diruwat diyakini terbebas dari sukerta (kekotoran) atau terbebas dari nasib buruk. Biasanya acara tersebut dibumbui dengan ritual dan sesajen.
Namun tradisi ini tanpa disadari dapat merenggangkan Tauhid manusia bahkan bila yang mempercayainya maka bisa jadi jatuh dalam bentuk Kesyirikan. Kenapa? Meyakini bahwa kita terbebas dari kekotoran dan nasib buruk karena sebuah ritual dan sesajen berarti menandingi kekuasaan Allah SWT. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).
Terbukti walaupun telah melaksanakan ruwatan tetapi kemalangan tidak bisa ditolak. Kendaraan tersebut mengalami kecelakaan. Syukur alhamdulillah Dahlan Iskan selamat.
Namun ada sebagian komentar masih saja membela acara ruwatan ini dengan mengatakan "Untung melakukan ruwatan sehingga Dahlan Iskan selamat." Lihatlah QS. Al A'raf: 131 tabiat manusia sakit hatinya dengan mengatakan hal tersebut.
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami".
Kuncinya Tawakkal*)
Penilaian syirik ini dilihat dari beberapa sisi: (1) bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, (2) memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan (3) mengurangi tauhid. Untuk menghilangkan persangkaan nasib baik dan nasib sial di sini hanyalah dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Hadits yang telah lewat disebutkan, “Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”.
Penulis Fathul Madjid (335) berkata, “Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah.”
Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.” Ini perkataan beliau dalam I’anatul Mustafid (2: 16).
Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).
Berdoalah:
اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
[Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah] “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
*) Tulisan dinukil dari Rumaysho.com
http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3697-beranggapan-sial-berbau-syirik.html







0 komentar:
Posting Komentar