Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.
Hari-hari kemarin rasanya iman mulai kendur, semangat belajar mulai sedikit pudar. Sangat memerlukan kembali pemicu dan alhamdulillah menemukan lembaran e-book yang sangat bermanfaat yang berjudul Kumpulan Faedah Seputar Tauhid. E-book ini kembali membawa semangat saya untuk kembali belajar dan belajar ilmu agama. Untuk itu rasanya ada baiknya saya juga bagikan kepada rekan-rekan semoga bisa kembali bersemangat. Aamiin.
=== Faedah Seputar Tauhid ===
Syaikh as-Sa'di rahimahullah
berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki dampak yang baik serta
keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya
kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan
keutamaan yang muncul darinya.” (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid
at-Tauhid, hal. 16)
Bukan Istilah Baru
Sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma
mengatakan: Ketika mengutus Mu'adz menuju Yaman, Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan menjumpai suatu kaum
dari kalangan Ahli Kitab. Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada
mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah ta'ala...” (HR. Bukhari
dalam Kitab at-Tauhid [7372])
Sahabat Ibnu 'Umar radhiyallahu'anhuma
meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam
dibangun di atas lima perkara: tauhid kepada Allah, mendirikan sholat,
menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman
[16])
Sebab Keamanan dan Hidayah
Tauhid merupakan sumber
keamanan dan hidayah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu
syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan
mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (QS. al-An'aam: 82)
Syaikh Muhammad bin Abdul
Aziz al-Qar'awi hafizhahullah berkata, “Allah subhanahu wa
ta'ala memberitakan kepada kita bahwasanya barangsiapa yang
mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik maka Allah
menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akherat serta
Allah akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (lihat al-Jadid
fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 35)
Kunci Keselamatan
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang
kafir itu seandainya mereka memiliki segala sesuatu yang ada di bumi seluruhnya
dan yang serupa dengannya untuk menebus siksaan di hari kiamat nanti niscaya
hal itu tidak akan diterima, dan mereka layak untuk mendapatkan siksaan yang
sangat menyakitkan.” (QS. al-Ma'idah: 36)
Dari 'Itban bin Malik radhiyallahu'anhu,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah
mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan
ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dalam Kitab
ash-Sholah [425] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [33])
Dari 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu'anhu,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang
meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan -yang benar-
selain Allah, niscaya dia akan masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim dalam Kitab
al-Iman [26])
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu,
beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun,
niscaya dia masuk ke dalam neraka.” Dan aku -Ibnu Mas'ud- berkata, “Barangsiapa
yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun,
maka dia pasti akan masuk surga.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jana'iz
[1238] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [92])
Syaikh as-Sa'di rahimahullah
berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah ia merupakan
sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila di dalam
hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila
tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan menghalangi masuk neraka secara
keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (lihat al-Qaul as-Sadid fi
Maqashid at-Tauhid, hal. 17)
Syarat Diterimanya Amalan
Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan
Rabbnya hendaklah dia beramal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun
dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. al-Kahfi: 110).
Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), “Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan orang-orang
sebelummu; Seandainya kamu berbuat syirik maka pasti akan lenyap seluruh
amalanmu, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS.
az-Zumar: 65).
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah
berkata, “Ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah disebut dengan ibadah kecuali jika
bersama dengan tauhid. Sebagaimana sholat tidak disebut sholat kecuali jika bersama
dengan thaharah. Apabila syirik memasuki ibadah maka rusaklah ia, sebagaimana
hadats yang menimpa pada orang yang telah bersuci.” (lihat al-Qawa'id
al-Arba', hal. 7).
Perintah Yang Paling Agung
Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya
beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan menjalankan
ajaran yang hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang
lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri
dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah
ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan
dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari
dalam Kitab al-Iman [9] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [35],
lafal ini milik Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah
berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang
paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas
setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali
setelah sahnya hal ini.” (lihat Syarh Muslim [2/88] cet. Dar
Ibnul Haitsam)
Syaikh as-Sa'di rahimahullah
berkata, “Perkara paling agung yang diperintahkan Allah adalah tauhid, yang
hakikat tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Tauhid itu mengandung
kebaikan bagi hati, memberikan kelapangan, cahaya, dan sikap lapang dada. Dan
dengan tauhid itu pula akan lenyaplah berbagai kotoran yang menodainya. Pada
tauhid itu terkandung kemaslahatan bagi badan, serta bagi [kehidupan] dunia dan
akhirat. Adapun perkara paling besar yang dilarang Allah adalah syirik dalam
beribadah kepada-Nya. Yang hal itu menimbulkan kerusakan dan penyesalan bagi
hati, bagi badan, ketika di dunia maupun di akhirat. Maka segala kebaikan di
dunia dan di akhirat itu semua adalah buah dari tauhid. Demikian pula, semua
keburukan di dunia dan di akhirat, maka itu semua adalah buah dari syirik.”
(lihat al-Qawa'id al-Fiqhiyah, hal. 18)
Syaikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya tauhid menjadi perintah
yang paling agung disebabkan ia merupakan pokok seluruh ajaran agama. Oleh
sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwahnya dengan
ajakan itu (tauhid), dan beliau pun memerintahkan kepada orang yang beliau utus
untuk berdakwah (baca: da'i) agar memulai dakwah dengannya.” (lihat Syarh
Tsalatsat al-Ushul, hal. 41 cet. Dar ats-Tsurayya)
Pondasi Kebahagiaan
Syaikh Abdul Malik
Ramadhani hafizhahullah berkata, “Tauhid ini memiliki kedudukan laksana
pondasi bagi suatu bangunan.” (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal.
13)
Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), “Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan
bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah
orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia
pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.” (QS. at-Taubah: 109)
Syaikh Abdul Malik
Ramadhani hafizhahullah berkata, “Hal itu dikarenakan ayat ini turun
berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat di dalamnya.
Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini
(membangun masjid) dengan keikhlasan di
dalam hatinya, maka amalan itu tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka.
Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam
Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.” (lihat Sittu Durar
min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
Kunci Ampunan
Allah ta'ala
berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu
bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. an-Nisaa': 48)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah ta'ala
berfirman, “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa
dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku
dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar
itu pula.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab ad-Da'awat [3540] dan dihasankan
olehnya, disahihkan Syaikh al-Albani)
Sebab Kejayaan dan
Kemuliaan
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Allah menjanjikan
kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, bahwa Dia
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia sungguh akan meneguhkan
bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar akan
mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa
pun.” (QS. an-Nuur: 55)
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Seandainya penduduk
negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan bagi mereka
keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A'raaf: 96)
Syaikh as-Sa'di rahimahullah
berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki dampak yang baik serta
keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya
kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan
keutamaan yang muncul darinya.” (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid,
hal. 16)
Syarat Untuk Mendapatkan
Syafa'at
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu,
beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera
mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa'at bagi
umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa'at- itu -dengan kehendak Allah- akan
diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak
mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman
[199])
Wallahu a'lam bish shawaab.
***
Sumber
e-book:






0 komentar:
Posting Komentar