Perlu diketahui bahwasanya kalimat laa ilaha illallah tidaklah
diterima dengan hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah dan
keliru dalam memahami hadits-hadits tentang keutamaan laa ilaha illallah.
Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan
–misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa
neraka. Hal ini tidaklah demikian.Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika
terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan
ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan
memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia
ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.
Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah
Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :[1] Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan
[2] Yakin yang meniadakan keragu-raguan
[3] Menerima yang meniadakan sikap menentang
[4] Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan
[5] Jujur yang meniadakan dusta
[6] Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’
[7] Cinta yang meniadakan benci
Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut.
Syarat pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah
Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah
dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan
benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.”(QS. Muhammad [47] : 19)
Manusia tidak mengilmui makna laa ilaha illallah akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan syirik.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِي
جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا
تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu;
karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal
kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik.
Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar)
untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di
tengah kegelapan malam.”
Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan
syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai
fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini,
tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa
yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan
seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga
ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’. Akhirnya
beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
”Janganlah engkau menjadikan si fulan
(sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua
ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi).
(Bersambung)






0 komentar:
Posting Komentar